Metamorfosis Jiwa Tua

Oleh Jayanto Halim Tjoa

Pernahkah kau dengar sebuah kisah
Di bawah gemerlap mati hidupnya tujuh purnama?
Seonggok jiwa tua berbicara dalam kebisuannya
Menghitung sisa hari yang masih dimilikinya

Pada penghujung hari yang dinantikan
Di kala jiwa tua ini telah lelah berkelana
Dan tak lagi benderang maupun rupawan
Hanya sunyi yang mampu ia bawa ke alam baka

Perlahan sang jiwa tua itu hidup lagi
Dalam hausnya ia berkelana
Membawa beban sepanjang hidup barunya
Oh jiwa tua bertransformasilah engkau menjadi unta

Jika memang kebodohan menjadi alasanmu untuk memikul beban?
Apakah ketidakpastian menjadi sebuah tuntutan akan langkahmu?
Dan jika kematian lagi-lagi akan menghampirimu
Sanggupkah engkau menghapuskan derita dalam kesendirianmu?

Dan sekali lagi jiwa tua itu harus mati
Tidak ada lagi belengguh yang harus ia pikul
Hanya kebebasan yang terdapat dalam aumannya
Oh jiwa tua bertransformasilah engkau menjadi singa

Tak ada lagi sakit dan derita yang mampu kau rasa
Semua lawanmu telah habis kau bunuh satu per satu
Dan memang jika waktunya harus tiba
Engkau siap membunuh sang naga perkasa

Dalam pertarungan terakhir kemenangan telah kau raih
Namun ajal mampu mengabadikan namamu
Jiwa tua dirimu telah terbebas dari segala bentuk takhayul
Mengalami pemuluran dan hidup dalam keabadian sebagai seorang anak kecil

Tiada lagi afirmasi kudus maupun fana yang harus kau mengerti
Yang ada hanyalah proses pelupaan tanpa harus mengingat apapun
Jika kematian tak lagi dapat menemuimu dan mengakhirimu
Abadilah engkau dalam keesaan ningrat itu