Untuk melihat gambar, silahkan pilih judul Puisi Pendek - Singkat dibawah.

Kirim Puisi Sekarang
Menu

500+ Puisi Pendek Bergambar (NEW 2020)

Mendung hitam

Apabila mendung vital sudah di atas kepala jangan larang hujan turn kebumi apabila angin bertiup dengan kencangnya jangan larang daun daun kering berguguran apabila senyummu selalu mekar di hatiku jangan larang jika aku selalu rindu Dan mencintaimu

Hati yang Teguh
Kristal Cinta
Kesepian

Mata Adalah alat distribusi cinta

Ibarat mercusuar cinta adalah sinar…

KAU

Kau Bicara dengan jemari Lantang…

JELITA YANG FANA

Terik hujan menjebak karsa Terikat…

Kemelut Rindu Menyapu Waktu

Layak langit Laksana bulan Namun…

Puisi Ibu

Yang Tak Terbantahkan

“ciluuuuuuuk baaa” “Jangan lelarian, ntar…

Bidadari tak kenal lelah

Kau wanita yang mulia Kau…

Di Dekat Tanjung, Ibu Berdoa

wajahmu seluas tanjung ketika langit…

Terima Kasih Mak.. Pak

Mak.. Kau peri dunia terindah…

Senja yang sirna

Jika ijuk telah luruh
Mataku dalam terbenam
Antara pintu dan dua jendela tua
Kau masih tersenyum
Matamu yàng sedikit sayu
Jemarimu lihai berpita
Dan…..
Awanpun sedikit demi sedikit menelan terangmu
Seketika lunglai kakiku
Tàk bertulang
Tak berpori
Tak bernadi
Bahkan hàmpir mati
Mentari yang selalu kunanti
Kini pergi….
Hilang tak akan datang
Senjaku…..
Kau sirna >>...

~ 5 ~

Mata Adalah alat distribusi cinta

Ibarat mercusuar
cinta adalah sinar terang
yang menyinari hati setiap insan manusia,

dan mata
adalah alat untuk mendistribusikan cinta
melalui tatapan mata
antar kedua insan manusia
cuma mata yang tidak menua

jernihnya sama
dari kita lahir
sampai menutup mata.

~ 7 ~

Rindu

Rindu…..!
Rindu itu kembali menyapa
Mengisi relung hati
Ah, ingin menepis semua rasa itu
Hati berontak, jiwa menjerit
Dia, bukan lagi untuk dirindukan
Dia, bukan untuk dimiliki dalam dekapan
Dia, hanya menjadi cerita kelam dalam hidup
Kenangan pahit
Ya, amatlah pahit
Rindu….!
Aku ingin Tuhan tak lagi menyapaku lewat rindu ini
Tuhan,…!!!
Biarlah ia tenang >>...

~ 5 ~

KAU

Kau
Bicara dengan jemari
Lantang
Berapi-api
Menggemakan cinta
Di setiap relung hari

Kau
Bicara dengan jemari
Tutur tanpa jeda
Dan artikulasi menggema
Di kesunyian ini

171219

~ 8.2 ~

Lapisan Rindu

Ketika suatu hari nanti
Kutemukan titik akhir pertemuan ini
Menggelisahkan hati
Membuat sunyi
Kian menggelora disapu rintih hati
Dan kapan kita dapat bertemu kini
Ku kenang kini namamu disisi
Semoga kelak dapat bertemu lagi

~ 6.5 ~

Asa

wahai rumputan, pesanmu pada hujan
belum tersampaikan
karena angin masih ingin jalan-jalan
mengusir gerah badan

21/11/2018

~ 7 ~

Terbunuh jarak

Mata ini seperti terasing
Katapun tersesat tanpa arah
Disini terbunuh jarak
Hanya terdiam

Kaki ini terpasung
Dan tangankupun terikat
Masih disini terbunuh jarak
Hanya terdiam

Tatapan itu hanya bersua dalam hayalan
Hanya bermain dalam imajinasi
Hanya hanya…Hanya dalam lamunan
Sekedar merindu

Menjaga hati
Dalam jarak yg slalu merindu
Hati yang berjarak
Menjaga rasa yang jauh

~ 6 ~

pilu

rindu sendu mengharu kalbu
sunggu berbakat kau petik hati
jikalau resah akan kehilangan
jangan berpikir aku lenyap
sampaikan pelukku, wahai kusam
sungguh tiada tampak jiwa berbunga
lebih lebih ku tak bertutur
hatiku rindu bukan kepalang
nestapa gancaran dilalui
waktu memisahkan akan prosa indah
jarak memikul beban
berambisi tuk bergandengan
menanti pelipur hati

~ 6 ~

JELITA YANG FANA

Terik hujan menjebak karsa
Terikat hening melahap rasa
Terbakar menjadi jelaga
Tersirat melewati masa

Kini masih terasa
Kini menjadi bejana
Sebab lisan tiada berdaya
Sebab melihatmu menjadi sebuah upaya

Tentang mu masih bernyawa
Tentang mu yang tiada di dunia maya
Tentang mu jelita
Tentang mu yang fana

~ 8.5 ~

Senja

Senja…
Kutitip sepenggal asa ini yg ternoda
kutitip luka ini dilangit yg menjingga
Kunikmati derita ini hingga malam tak mampu menerjemahkan kesunyian
Biarkan semuanya abadi
hingga mayapada berhenti digelar

~ 9 ~

Yang Tak Terbantahkan

“ciluuuuuuuk baaa”
“Jangan lelarian, ntar jatuh”
“Jangan jajan sembarangan, ditabung ya”
“Udah makan?”
“Jangan lupa sholat”
“Tolong anterin belanja”
“Semoga semua sehat selalu”

Kata-kata mencerminkan segalanya,
Dari masa… ke masa

Aku juga menyayangimu Bu

~ 8 ~

Potret

Kubuka gawai
Tergambar jelas potret kita
Kukira api rindu akan padam
Nyatanya ia semakin menghujam

~ 6 ~

DAMAI DIRI

Dari atas puncak ini
Kutemukan damainya diri

Silih bergantinya senja dan fajar
Terpampang jelas di depan netra
Seisi sukma seakan terbius
Pada kirana keagungan Tuhan
Jiwa raga bahkan semuanya
Enggan beranjak untuk kembali

Banjarnegara, 28 september 2019

~ 7.5 ~

Kemelut Rindu Menyapu Waktu

Layak langit
Laksana bulan
Namun sekelumit
Hanya tertawan
Berganti fajar
Dan sang embun terhampar
Seperti terdampar
Melihatmu jauh samar
Tapi aku tidak mundur
Kepergianku bukan berarti gugur
Mungkin saat ini sepi >>...

~ 5 ~

Tetap menjadi tatapan

Menetap atau meratap,
Yang selalu ditatap tidak berjanji akan menetap,
Alang langit mulai gelap,
Bilaman awan ingin meratap

~ 4 ~

GUMAM

Ku rangkai kata dalam sebuah puisi lara,
Ku kemas duka dalam bejana siksa
ku jadikan sketsa hayal ku
untuk ku nikmati saat kelam ku menghampiri

torehan luka demi luka
silih berganti merongrong raga
ingin rasa menjerit membelah langit
namun apa daya, berbisik pun aku tak bergemit

kini…
aku termenung melukis dalam renungan
berkanfas hayal, berpenakan angan
>...

~ 9.8 ~

Pangeran Cinta

Ketika ombak menghantam karang
Jangan larang batu akan rapuh
Ketika badai meniup Savana
Jangan larang tumbuhan akan goyang
Ketika bidadari di depan mata
Jangan larang aku mencintai dan memiliki

~ 3 ~

Hati

Hati………..
Mengapa kau bimbang selalu?
Adakah luka yang tetap hiasimu?

Hati…….
Mengapa pahit selalu kau rasa?
Adakah yang masih mengganjal padamu?

Hati…….
Tabahkan dirimu layaknya raga yang kau huni.
Biarkan yang lalu jadi lukisan buram di dindingmu.
Dan menjadi pelajaran berharga tuk dirimu.
Agar dapat kau bertambah dewasa,
Dan kian tegar dalam lalui hari.

Hati………
Sambut hari esok >>...

~ 4 ~

Biarlah

Lembut sapamu menjama
Nohkta nuranimu menyentuh
Laksana sutera mengelus lena
Hingga buai hanyut di jiwa yang renyuh

Kini nohkta nurani memburam
Tercemar asa duga yg mencekam
Untai lisan tiada berdaya
Mengurai soal pun tercela

Sutera lembutpun kini berlalu
Sirna serta cerita dahulu
Jiwa renyuh di hati yang pilu
Termakan asa jalan yang keliru

Biarlah….🙏🙏🙏🙏

099x

~ 5 ~
Page 1 of 31:1 2 3 4 > Last