karya puisi pendek

Sajak Perahu Layar Oleh Boeng Reza

B

Sajak Perahu Layar

© Boeng Reza

Di atas perahu layar berlampu neon
Di bagian lambung, dua tiga orang mulai duduk dan berbaring melihat rasi bintang
Malam itu terasa dingin, kemudian sang kemudi mulai mendayuh meninggalkan pesisir
Cerita yang usang, “doa di darat menyertai ku bahkan hingga ke muka dasar samodra”, kata #penyairkehidopan

Di atas perahu layar
Negri ini kurasa mulai menampakkan djiwanya didepan kedua mataku
Hembusan anginnya menghelai kulitku yang setipis HVS prodak dalam negri
Derai air dari hilir menjadi tenang ditelan oleh kedalaman lautan
Perahu jalan dan memecah ketenangan, melihat ikan melompat diatas permukaan
Pulau-pulau adalah labuhan mereka yang masih bermuka

Di lautan, hidup makhluk paralel yang sama sifatnya
Rantai makanan adalah kedok sifat hewani yang ditiru para insan
Ikan ikan kecil berharap dari makhluk darat yang sama kecilnya, makan dan jual
Sang hiu yang rakus suka menebar ketakutan
Dia kepalanya mereka bersajak soal Tuhan dan Akhirat
Tetapi setelah mengingat perut, keluar dari mulutnya berlembar ucapan dibumbui kepentingan

Makhluk-makhluk suka melewati jalan yang mereka kehendaki
Diatas nama kemerdekaan mereka tuliskan kata kebebasan
32 tahun kiranya mulut mereka dijepit perangkap tikus
Saat terbuka maka soraklah teriakan di seluruh penjuru

Diatas kebebasan, mereka lepas fantasi dan melukis rumus-rumus edan
Ikatan-ikatan ditarik sekaret mungkin dan terpaku oleh kelompok-kelompok penggiring perpecahan
Berjalan di zaman edan, jari jemari adalah tokoh utama film akbar
Mereka yang tersesat dibentuk oleh idealisme yang dibuat dari potongan firman dan kehendaknya
Setelah itu di tempat akhir, hanya sisakan tangisan sedu dan diiringi sejagat kata-kata maaf

Kita ini benda hidup yang fana dan merusak
Tuhan ciptakan napsu agar mata ini tidak terasa buta, hati bisa berpuisi, dan indera lain sebagai sampulnya
Saat jalan kegilaan dibuat oleh kata-kata, maka zaman jatuh dan agama mengalami erosi ditelan pikiran
Mereka yang terjatuh, menurunkan buah pikiran dan menanam dalam hati generasi berikutnya
Mereka yang terbentuk oleh keadaan, tidak lupa akan garis nasib namun tak pantang berjalan dijalan berlobang

Urakanlah kalean, segila apapun
Rusak-rusaklah sehancur apapun
Buatlah jalan sepanjang apapun
Kuraslah sampai habis, karena Khalid tau akhirnya
Namun satu permintaan Dewi Pertiwi
JANGAN PERNAH BERHENTI BELAJAR

Negri ini tak pernah sepi akan tangisan
Namun disampingnya ada jutaan doa dibawah tilam
Bunga bangsa masa depan adalah rumput yang tumbuh di khatulistiwa
Jikalau masa ditelan badai api, maka chaos pasti terjadi
Ilmu-ilmu adalah pancuran air yang laku di sepanjang zaman
Mustilah tujuan dibentuk seperti akar serabut yang bertangkai pada tunjang dan tajamnya menembus langit
Padamu, aku mengeluh


Berapa nilai untuk puisi ini ?

Beri nilai dengan tap jumlah bintang dibawah ini. Dari kiri ke kanan 1 sampai 10

Average rating 7.1 / 10. Vote count: 10

Belum ada yang memberi nilai, jadilah yang pertama!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *