Persimpangan Karbala

Oleh PencilSpirit

Tak terasa aku sampai dijalan ini,
Jalan kebenaran yang membawaku kemari,
Tempat yang hanya menyuguhkan ngeri,
Menyebutnya saja membuat bulu kuduk berdiri.

Ditiap arah jalan kulihat nama Karbala,
Diukir jelas diatas pedang-pedang khianat para durjana,
Namun tak banyak yang menyadarinya,
Karena kacamata manis penguasa Arabia.

Persimpangan ditengah gurun ini sepi,
Bawalah sapu tangan bila kemari,
Karena desir pasirnya selalu membawa luka hati,
Hingga air matamu mengalir bersama darah suci.

Tepat ditengah persimpangan ini,
Ada sepetak taman rumput, bunga dan mata air,
Rumput itu rumput kebenaran,
Yang akan terus tumbuh dihati tulus pencarinya,
Bunga itu bunga perjuangan,
Yang selalu mekar melawan penindasan
Mata air itu mata air surgawi,
Yang terus akan menjadi hilir hilir energi keberserahan pada Ilahi.

Ditengah taman itu ada sebuah batu Syahid,
Bertuliskan “Disinilah Husain bin Ali wafat”.

Kirim Puisi ke:

Puisi Oleh PencilSpirit

Akrab dengan sapaan Mas Bo, yang suka dengan keindahan bunyi kata dan kalimat meskipun bukan penyair (katanya sih..). Suka dengan segala yang berbau seni, namun bukan seniman, karena menurutnya tak satupun dimensi seni-seni itu bisa dikuasainya. Kalau ingin copy paste puisi doi, kami mohon dengan segala kerendahan hati untuk mencantumkan nama pembuat atau link halaman ini ya.

View all author posts →