Nukilan resah

Oleh Eka tekno

Sabda malam ini sunguh mendayu-dayu,
Sehingga kulit jemariku bergeliak ingin menulis sebuah kata,
Aliran tangan yang mengikut susunan hati,
Tak kala ia mengikut perasaan,

Coretan batinku tak terbendung dengan amarah,
Bergetar tanpa segan,
Fikiran diawang-awang gundah gulana,
Di dalam jurang antara tirisan akar perasaan,

‘Hai sebuah perasaan’ sahut ragaku,
Menanyakan apakah ia baik-baik sahaja,
Namun tanpa kata putus darah yang menbendungnya,
Emosi menjadi-jadi melihat teater sebuah drama sakit hati,

Aku berhenti di perhentian itu,
Lelah tangan ini melakar kata,
Takkan pernah menjadi pemenang juga,
Malahan menjadi sampah di gerombolan.

Kirim Puisi ke:

Puisi Oleh PencilSpirit

Akrab dengan sapaan Mas Bo, yang suka dengan keindahan bunyi kata dan kalimat meskipun bukan penyair (katanya sih..). Suka dengan segala yang berbau seni, namun bukan seniman, karena menurutnya tak satupun dimensi seni-seni itu bisa dikuasainya. Kalau ingin copy paste puisi doi, kami mohon dengan segala kerendahan hati untuk mencantumkan nama pembuat atau link halaman ini ya.

View all author posts →