Hitam Yang Bercahaya

Oleh Muhammad Khoirul Faizin

Hitam yang bercahaya

Teringatkan, kelam surau masa lampau
Bahkan, mendung dirasakannya hingga kini
Menghujam telak di kalbu
Terang tak lagi menghiasi
Penuh dengan rasa malu
Tatkala kepekatan senantiasa didapati.

Jeruji maksiat yang tak pernah henti
Ibarat rembulan terbelah
Hitam di setiap malam hari
Terkelungkup penuh resah gelisah
Di tanah itu, ia menyesal dalam sanubari.
Pasrah kepada Sang Maha Pemurah.

Yang ia harapkan satu
Sebuah senyuman, senyuman penuh cahaya
Perlahan melebur hitam itu
Cahaya merekah diwajahnya
Biaskan hitam dalam kalbu
Tatkala hendak menghadap-Nya.

Oh… Tuhan!
Kau Maha Tahu, segala sesuatu yang kulakukan
Rasanya tak pantas tuk mendekati-Mu
Mengemis ampunan-Mu
Penuh dosa kulakukan
Tanpa ku tersadarkan.

(Kudus, Maret 2016)