Dan Inilah Keindahan Itu

Oleh Legiman Partowiryo

Hingga pada akhirnya aku harus puas pada kekalahan yang tak pernah aku inginkan. dulu ia yang sempat ku bahagiakan dengan segala kekuranganku telah menyeberang melalui ceruk paling dalam sebagai pengorbanannya kepada dada yang telah membuatnya rela mempertaruhkan segala hal yang dulu pernah ia janjikan kepada musim yang kerontang. apakah ini sebuah pertanda bahwa aku memang telah ditakdirkan hidup di bawah bintang kematian?. bahwa akan selalu ada keping kehilangan di setiap hati yang ingin kurambah dengan keabadian.

Akankah segala anak rindu yang pernah kutanamkan bertunas menjadi tetumbuhan culas yang akan menghabisiku dengan duri di tiap sulur-sulurnya?, siapakah yang lebih paham akan takdir yang selalu berceloteh bahwa ia memiliki api balas yang lebih panas dari api-api cintaku yang patah. pada musim apa kini aku harus bersandar, sementara tiap musim menjauh dengan putaran yang tak lagi pasti?.

Laguku, kemarilah, aku butuh balur doa-doamu untuk sekali lagi membasuh bilur-bilur di dadaku yang setiap orang akan menghindarkan pandangan saat menatapnya. maafkanlah aku yang tak pernah sempat melahirkanmu lagi karena dawai-dawaiku telah rumpang diterjang sebuah kepergian yang entah kapan ia akan berpikir untuk kembali lagi bahkan jika hanya untuk sekali lagi mencobai dengan pisau tajam yang tersembunyi di balik kedua sayapnya yang dulu pernah kukagumi.

Puisi Oleh Legiman Partowiryo

Akrab disapa Kang Gun, penulis cerpen aktif disalah satu koran terkemuka dijawa timur

View all author posts →